Quo Vadis DKJ dan Musyawarah Burung.

- Kamis, 27 Oktober 2022 | 08:09 WIB
DKJ (Tangkapan Layar)
DKJ (Tangkapan Layar)

Oleh Benny Benke.

JAKARTA, Jakarta.Suaramerdeka.com, - Orang besar akan diuji oleh persoalan-persoalan besar. Demikian halnya dengan institusi yang berniat menjadi besar, harus melewati banyak batu ujian besar yang musti dilampauinya. Demikian halnya dengan Dewan Kesenian Jakarta (DKJ), lembaga non-struktural Pemerintah Daerah di bidang kesenian, yang untuk pertama kalinya akan menyelenggarakan Musyawarah Kesenian Jakarta  pada 1 November 2022 di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta.

Berdasarkan Pergub nomor 4 tahun 2020, Musyawarah Kesenian Jakarta merupakan forum untuk menyampaikan berbagai hal penting bagi perkembangan kesenian di Jakarta. Dalam Musyawarah ini akan disampaikan 3 tema penting: Regulasi Kesenian Jakarta, Rencana Strategis Seni Jakarta, dan Pemilihan Kandidat anggota DKJ 2023-2025. Dalam Muswarah nanti, keberadaan dan kekuatan DKJ akan diuji.

Menimbang ujian yang telah dilewatinya, bukan kecil lagi. Apalagi sejak Lembaga ini dibentuk pertama kali oleh Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin, berdasarkan Surat Keputusan (SK) No. Ib.3/2/19/1968 tertanggal 7 Juni 1968 tentang Pembentukan Dewan Kesenian Jakarta.

Harusnya ujian kali ini, dapat dengan mudah akan dilewatinya. Apalagi, Dewan Kesenian Jakarta, sebagaimana Pergub-nya, bertugas sebagai mitra kerja gubernur (DKI Jakarta) untuk merumuskan kebijakan serta merencanakan berbagai program, guna mendukung kegiatan dan pengembangan kehidupan kesenian di wilayah Jakarta.

"DKJ tugas pokoknya melakukan kuratorial kesenian di TIM. Dan panduan kurasi DKJ di TIM anti kebaruan. Salah satunya anti diskriminasi, kekerasan seksual, dll, " demikian dikatakan Ketua Pengurus Harian Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) Danton Sihombing saat menjelaskan kesiapan penyelenggaran Musyawarah Kesenian Jakarta di ruang Sjumanjaja, Kineforum, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, Selasa (25/10/2022) lalu.

Keberadaan DKJ, menurut Danton Sihombing sangat unik sekali. Karena, sebagai lembaga pemikir melekat dengan infrastruktur pusat kegiatan keseniannya, yaitu Taman Ismail Marzuki (TIM).

Dalam catatan Danton Sihombing,
ada 41-an Dewan Kesenian di Indonesia, dari tingkat Kota dan Kabupaten. Dan DKJ satu-satunya di Indonesia, menjadi Art Culture, yang dilekatkan oleh infrastrukturnya, yaitu TIM.

Turunannya, persoalan yang mengikutinya, unik juga. Dengan segala keunikannya itulah, DKJ berupaya membuka hati dan pikirannya selebar-lebarnya, seluas-luasnya dan sedalam kemampuannya untuk melakukan open mind for different views.

Halaman:

Editor: Budi Nugraha

Tags

Artikel Terkait

Terkini

KSP: Copot 2 Menteri PKB!

Selasa, 24 Januari 2023 | 17:09 WIB

Menimbang Biaya Haji di Indonesia.

Selasa, 24 Januari 2023 | 10:24 WIB

Jabatan Itu Memabukkan, Pak Kades!

Rabu, 18 Januari 2023 | 23:25 WIB

Kades Maju Tak Gentar Demi 9 Tahun Jabatan

Selasa, 17 Januari 2023 | 02:30 WIB

Narcissus Masa Kini

Kamis, 12 Januari 2023 | 14:05 WIB

Abimanyu Wachjoewidajat : Terkait KDRT Venna Melinda

Selasa, 10 Januari 2023 | 16:48 WIB

Heboh, Viral Muncul Mata Air Di Dekat Makam Eril

Sabtu, 7 Januari 2023 | 15:05 WIB

Indonesia dan 100 Tahun NU.

Jumat, 6 Januari 2023 | 06:06 WIB

Katimbang Nonton Bokep

Rabu, 4 Januari 2023 | 16:16 WIB

Dibuang di UU Pers, Dipunggut ke dalam KUHP

Jumat, 30 Desember 2022 | 17:13 WIB

Menyambut Brutus-Brutus PSSI

Jumat, 30 Desember 2022 | 01:17 WIB
X