Wasiat Ahlakul Karimah dalam Antalogis Puisi Potret Wajah Kita.

- Rabu, 16 November 2022 | 19:22 WIB
Doddi Achmad Fauji (Koleksi Pribadi DAF)
Doddi Achmad Fauji (Koleksi Pribadi DAF)

Oleh Doddi Ahmad Fauji.

JAKARTA, Jakarta.Suaramerdeka.com,- Buku antologi puisi yang diberi juluk ‘Potret Wajah Kita’ gubahan A. Slamet Widodo, untuk kedua kalinya saya terima. Dulu, di Bengkel Teater Rendra (BTR), Kawasan Depok, saya menerima buku berisi 16 judul puisi itu, langsung dari orangnya. Buku itu belum dibaca sampai tuntas, keburu rusak bersama buku lain dalam tragedi banjir bandang Jakarta 2007. Mungkin bisa jadi ada yang meminjamnya, tapi dia tidak mengembalikannya.

Tentu saya sedih, buku-buku yang dikumpulkan sejak kuliah banyak yang rusak oleh banjir, lalu dibuang. Ada juga yang rusak dimakan rayap, atau dipinjam teman dan tidak dikembalikan. Ada yang dicuri atau saya sumbangkan. Namun di balik kabut kesedihan, bisa terbersit cahaya dadakan, entah dari mana datangnya, yang membuat manusia bisa ujug-ujug melihat lebih jernih masalah hidup. Kedatangan antologi ini untuk kedua kalinya, membuat saya bisa membacanya sampai selesai, dan menjadi kebahagiaan tak terduga, karena kemudian Slamet memberi saya pekerjaan intelektual, yaitu menganalisis bukunya.

Setelah menulis dua paragraf di atas, saya langsung teringat Surat Al-Insyirah (QS: 94) ayat ke-5 dan 6: “Maka sesungguhnya setelah kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya setelah kesulitan ada kemudahan.”

Jika dulu saya menerima buku ini, dan membaca pengantar di halaman belakang yang ditulis penyair humoris Joko Pinurbo, juga pengantar di depan yang ditulis WS Rendra dalam bentuk pantun jenaka, bisa jadi saya terbawa pada pendapat kedua penyair senior itu, yang memberi kesan yén antologi puisi terbitan Februari 2004 ini, sebagai antologi puisi humor. Saya maklum jika Joko Pinurbo menilik buku ini dari sudut ‘ludens’ (bermain), karena Sang Joko sendiri memang banyak menciptakan dan mewacanakan humor dalam puisinya. Setelah saya baca seluruh puisinya dari awal sampai akhir, kadar humor dalam antologi puisi ini kisaran 25% saja, sedangkan 75% kebanyakannya berupa larik-larik hikmah yang amat serius.

Potret Wajah Kita’ gubahan A. Slamet Widodo, (Tangkapan Layar )

Kami berbincang lewat telepon, dan setelah saya sampaikan prosentase antara humor dan hikmah, Slamet mengatakan, humor sebetulnya bukan tujuan utama dia berpuisi, tapi menjadi selingan agar puisi tidak kaku dan menjenuhkan untuk dibaca, apalagi puisi yang ditulisnya panjang-panjang. Lagi pula, humor dalam puisi Slamet disampaikan dengan gaya bahasa parodi, yang menjadi salah satu perangkat sastra untuk ‘ngupahan maneh’ (menghibur diri) dengan mengutarakan hal-hal yang konyol, tolol, bodoh, sombong, sontoloyo, dan sekian perangai kurang beretiket menurut masyarakat berpendidikan tinggi yang meraih kelas ‘the excellent’. Parodi itu kadang diselingi dengan alegori satiristik, ironis, sinis, kadang sarkastik.

Saya menerima kembali buku ini dalam nuansa batin yang telah mengalami serentetan cobaan dan tragika hidup, hingga saya melihat esensi dalam antologi puisi ini, bukanlah puisi-puisi humor, melainkan pelajaran ahlaqul karimah (ahlak yang baik) supaya manusia manusia meraih kebahagiaan dan kesuksesan. Pelajaran ahlak atau etika itu, saya dapatkan pada mata pelajaran ‘adabiyah’ (berbudaya) di madrasah tajiziyah (PAUD) dan Madrasah Ibtidaiyah (MI). Beberapa puisi dalam antologi ini, dapat menjadi bacaan lintas usia, terutama bagi mereka yang sedang mencari hikmah, ketenangan, dan kesejatian saripati hidup.

Pelajaran ahlaqul karimah pada mataperlajaran adabiyah itu antara lain berbunyi seperti ini: ‘al adibu mahbubun’ (budak bageur dipikaresep: anak yang berbudaya akan banyak yang menyukai).

Halaman:

Editor: Budi Nugraha

Tags

Artikel Terkait

Terkini

KSP: Copot 2 Menteri PKB!

Selasa, 24 Januari 2023 | 17:09 WIB

Menimbang Biaya Haji di Indonesia.

Selasa, 24 Januari 2023 | 10:24 WIB

Jabatan Itu Memabukkan, Pak Kades!

Rabu, 18 Januari 2023 | 23:25 WIB

Kades Maju Tak Gentar Demi 9 Tahun Jabatan

Selasa, 17 Januari 2023 | 02:30 WIB

Narcissus Masa Kini

Kamis, 12 Januari 2023 | 14:05 WIB

Abimanyu Wachjoewidajat : Terkait KDRT Venna Melinda

Selasa, 10 Januari 2023 | 16:48 WIB

Heboh, Viral Muncul Mata Air Di Dekat Makam Eril

Sabtu, 7 Januari 2023 | 15:05 WIB

Indonesia dan 100 Tahun NU.

Jumat, 6 Januari 2023 | 06:06 WIB

Katimbang Nonton Bokep

Rabu, 4 Januari 2023 | 16:16 WIB

Dibuang di UU Pers, Dipunggut ke dalam KUHP

Jumat, 30 Desember 2022 | 17:13 WIB

Menyambut Brutus-Brutus PSSI

Jumat, 30 Desember 2022 | 01:17 WIB
X