Wastra Nusantara Exhibition Bentuk Pelestarian dan Karya Kreatif Bangsa Indonesia

- Selasa, 14 Maret 2023 | 18:15 WIB
Rektor Universitas Budi Luhur, Wendi Usino bersama Ketua Yayasan Pendidikan Budi Luhur Cakti, Kasih Hanggoro dan Dubes Sri langka H.E. Admiral Prof. Jayanath Colombage  dalam kegiatan Wastra Nusantara Exhibition (SM/Prajtna Lydiasari)
Rektor Universitas Budi Luhur, Wendi Usino bersama Ketua Yayasan Pendidikan Budi Luhur Cakti, Kasih Hanggoro dan Dubes Sri langka H.E. Admiral Prof. Jayanath Colombage dalam kegiatan Wastra Nusantara Exhibition (SM/Prajtna Lydiasari)

JAKARTA, suaramerdeka-jakarta.com - Universitas Budi Luhur dalam kegiatan Wastra Nusantara Exhibition Batik dan Tenun Badui ini ingin berperan aktif dalam melestarikan karya-karya luhur dari nenek moyang, yaitu batik maupun bahan-bahan seperti tenun Badui.

Kegiatan yang diselenggarakan selama dua hari yakni 14-15 Maret 2023 ini mengangkat tema melukis Indonesia memperteguh berkebudayaan. Kegiatan ini merupakan rangkaian acara HUT ke-44 Universitas Budi Luhur.

"Itu semua adalah karya kreatifitas bangsa Indonesia dari para pendahulu. Oleh karena Itu, memang dengan tema HUT Universitas Budi Luhur yaitu Kreatif dan Kolaboratif tentunya kita tidak melupakan karya-karya kreatif tersebut," ujar Rektor Universitas Budi Luhur, Wendi Usino di sela-sela kegiatan Wastra Nusantara Exhibition di Jakarta pada Selasa, 14 Maret 2023.

Rektor pun berharap dengan visi dan misi ini dapat menyadarkan dan mensosialisasikan kepada warga Budi Luhur, khususnya serta masyarakat Indonesia untuk menghargai karya-karya bangsa Indonesia tersebut berupa batik dan kain-kain lainnya.

Rektor menuturkan kegiatan ini berkolaborasi dengan museum batik Indonesia, Nanang Sharna (International Fashion Designer), asosiasi pengrajin dan pengusaha batik, dan kolektor tenun Badui dengan koleksinya yang langka serta antik.

"Intinya adalah karya-karya yang koleksinya dari sekian tahun yang lalu, dari koleksi pribadi yang langka dan harganya mahal. Kita tampilkan atas sumbangan dari para kolektor tersebut, ditampilkan bukan dimiliki hal itu, harus kita jaga," tuturnya.

Misalnya, pada tenun Badui yang sudah tidak diproduksi lagi di mana bahannya dari kulit ari rotan, proses pembuatannya bulanan, harganya luar biasa mahalnya serta peminatnya sangat-sangat sedikit.

"Untuk itulah, kita coba melestarikan,"  imbuhnya.

Pada kesempatan yang sama, Ketua Yayasan Pendidikan Budi Luhur Cakti, Kasih Hanggoro mengatakan bahwa Universitas Budi Luhur ingin mengangkat kearifan lokal, kebetulan paling mudah itu adalah budaya.

"Seperti kain batik, anak-anak muda mungkin agak kendor ya. Makanya, kita berkolaborasi dengan desainer Nanang Sharna khusus membuat batik sehingga batik menjadi lebih asyik dengan fashion dan memperkenalkan anak muda lebih peduli dan mencintai batik," kata Kasih.

Kegiatan ini, lanjut Kasih, mengingatkan ia pada masa lalu. Di mana, seni batik menjadi mata pelajaran yang diikuti hingga akhirnya mencintai seni budaya lokal tersebut.

"Awalnya saya kurang berkenan, karena membatik identik dengan kaum perempuan. Namun seiring berjalannya waktu, membuat saya makin mencintai dan bangga akan batik Indonesia," ungkapnya.

Rangkaian kegiatan Wastra Nusantara Exhibition antara lain lomba desain batik Budi luhur, lomba tiktok dan fotografi, talkshow, workshop, fashion show, Bazaar Wastra, demo membatik dan menenun serta pameran Wastra.***

Editor: Arif Muhammad Iqbal

Tags

Terkini

X