Habis manis, ribuan Tionghoa dibantai di Jakarta

- Sabtu, 9 Oktober 2021 | 13:57 WIB
Pembantaian Tionghoa di Jakarta 1740 (Budi Nugraha)
Pembantaian Tionghoa di Jakarta 1740 (Budi Nugraha)

Jakarta, Suara Merdeka.Com.- 9 Oktober hingga 22 Oktober 1740, tanah dan air Jakarta menjadi kubangan darah orang-orang Tionghoa. Diperkirakan bahwa lebih dari 10.000 orang keturunan Tionghoa dibantai dalam peristiwa yang disebut sebagai Geger Pacinan.

Peristiwa yang juga dikenal sebagai Tragedi Angke (Chinezenmoord) tak berhenti begitu saja, kekerasan masih terjadi hingga akhir November tahun yang sama. Pembantaian ini disusul oleh periode yang rawan pembantaian terhadap warga keturunan Tionghoa di seluruh pulau Jawa.

Peristiwa tragis ini juga terjadi di Semarang pada tahun 1741, dan beberapa pembantaian lain di Surabaya dan Gresik. Pendek kata, pembantaian kaum Tionghoa di Batavia menimbulkan gejolak yang cukup panjang. Di sepanjang pesisir Jawa, barisan Tionghoa dan Jawa bersatu melancarkan perlawanan dari tahun 1741 hingga 1743.

Keresahan dalam masyarakat Tionghoa dipicu oleh represi pemerintah dan berkurangnya pendapatan akibat jatuhnya harga gula dunia yang terjadi. Orang-orang Tionghoa yang merupakan imigran sejak lama diperas oleh Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC). Jika melawan mereka diancam akan dibuang ke Srilanka.

Kerusuhan kecil-kecilan yang dilakukan para buruh Tionghoa yang resah pun terjadi di batas kota Batavia, pemerintahan yang dipimpin Gubernur Jenderal Valckenier menyatakan bahwa kerusuhan apapun dapat ditanggapi dengan kekerasan mematikan.

Pernyataan Valckenier tersebut diberlakukan pada tanggal 7 Oktober 1740 setelah ratusan orang keturunan Tionghoa, banyak di antaranya buruh di pabrik gula, membunuh 50 pasukan Belanda. Penguasa Belanda mengirim pasukan tambahan, yang mengambil semua senjata dari warga Tionghoa dan memberlakukan jam malam.

Dua hari kemudian, 9 Oktober, kelompok etnis lain di Batavia mulai membakar rumah orang Tionghoa di sepanjang Kali Besar. Sementara itu, pasukan Belanda menyerang rumah orang Tionghoa dengan meriam.

Kekerasan ini dengan cepat menyebar di seluruh kota Batavia sehingga lebih banyak orang Tionghoa dibunuh. Orang Tionghoa yang ditemukan, tua-muda, pria-wanita, bahkan bayi hingga lansia, dihabisi tanpa pandang bulu.

Meski Valckenier mengumumkan bahwa ada pengampunan untuk orang Tionghoa pada tanggal 11 Oktober, kelompok pasukan tetap terus memburu dan membunuh orang Tionghoa hingga tanggal 22 Oktober, saat Valckenier dengan tegas menyatakan bahwa pembunuhan harus dihentikan.

Halaman:

Editor: Budi Nugraha

Sumber: KKB dan KKSB

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Paramita Rusadi Meriahkah HUT Himpaudi

Selasa, 13 September 2022 | 05:53 WIB

Solidaritas Mahasiswa Teknik Mesin Tinggi

Rabu, 3 Agustus 2022 | 15:39 WIB

Poltekpel Banten Dirikan SDGs Centre

Selasa, 26 Juli 2022 | 21:37 WIB

Milenial, Generasi yang Harus Siap Jadi Pengusaha

Senin, 1 November 2021 | 11:26 WIB

Habis manis, ribuan Tionghoa dibantai di Jakarta

Sabtu, 9 Oktober 2021 | 13:57 WIB
X