Inilah Tiga Evaluasi P2G Seminggu PTM 100 Persen

- Kamis, 13 Januari 2022 | 21:38 WIB
SM/Dok
SM/Dok

JAKARTAsuaramerdeka-jakarta.com - Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G) mengkhawatirkan gelombang Omicron yang terus merangkak naik.

Oleh karenanya, P2G berharap Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek) meninjau ulang kebijakan pembelajaran tatap muka (PTM) 100 persen. 

Khususnya, daerah seperti DKI Jakarta termasuk daerah penyangga aglomerasi seperti Bodetabek. Sebab, P2G menemukan beberapa temuan di antaranya adalah kebijakan yang tergesa-gesa, pelanggaran prokes, kurangnya pengawasan.
 
P2G sangat mengapresiasi keputusan Walikota Solo yang menunda PTM 100 persen karena vaksinasi anak 6-11 tahun belum tuntas.
 
Begitu pula, Dinas Pendidikan Jawa Barat yang menunda PTM 100 persen, ini menjadi keputusan yang tepat, sangat berhati-hati di tengah meningkatnya kasus varian Omicron.
 
Berikut tiga evaluasi P2G seminggu PTM 100 persen, yaitu pertama, berdasarkan laporan P2G daerah, pelanggaran protokol kesehatan masih kerap terjadi. P2G masih menemukan banyak siswa berkerumun saat pengecekan suhu setiba di sekolah. 
 
Ini terjadi karena sekolah tidak memiliki thermogun memadai, P2G berharap agar sekolah memperbanyak thermogun yang dipasang secara terpisah satu sama lain.
 
"Kami dapat laporan, dari Jakarta maupun luar daerah, ada sekolah diam-diam kantinnya buka, padahal dilarang, jarak siswa tak 1 meter, dan ventilasi udara di kelas tidak ada," ujar Kepala Bidang Advokasi P2G, Iman Zanatul Haeri.
 
 
Iman mengatakan salah satu sekolah menengah pertama (SMP) di Kepulauan Riau mengalami kesulitan dalam melakukan scan barcode Peduli Lindungi saat masuk sekolah. Akhirnya, karena menghindari kerumunan, beberapa anak masuk sekolah tanpa melakukan scan. 
 
"Selain itu, untuk kebutuhan scan barcode anak-anak membawa HP. Ternyata mereka main tiktok di dalam kelas tanpa menggunakan masker. Nah, hal-hal semacam ini perlu dievaluasi. Itulah diantara alasan P2G meminta PTM 100 persen dilakukan secara bertahap," katanya.  
 
Temuan beberapa sekolah yang melakukan pelanggaran prokes seperti di Jakarta, Pandeglang, Cilegon, Kabupaten Bogor, Bengkulu, Kabupaten Agam, Solok Selatan, Situbondo, Bima, intinya terjadi di semua daerah yang sudah PTM 100 persen.
 
 
Salah satu alasan kenapa diam-diam kantin tetap buka adalah tidak semua siswa membawa bekal makan dari rumah, sebab orang tua mereka bekerja dan tidak memiliki asisten rumah tangga. Sehingga sekolah berinisiatif membuka kantin. Jadi sekolah juga dilematis sebenarnya.
 
"Ada SD di Banyuwangi mengadakan upacara bendera, dan beberapa anak pingsan. Kebanyakan karena sudah lama tidak upacara dan tidak sempat sarapan. Upacara Bendera memang tidak dilarang, tapi potensi kerumunannya tinggi," tambahnya.
 
Kedua, sebetulnya siswa sekolah dasar (SD) masih belum bisa melaksanakan PTM terbatas 100 persen. P2G mengharapkan skema PTM 100 persen dilakukan secara bertahap. Dimulai 50 persen, lalu dievaluasi, jika hasilnya bagus, maka lanjut 75 persen, dan seterusnya sampai 100 persen. Intinya evaluasi komprehensif secara berkala.
 
"Misal, lima puluh persen dulu, dua minggu berikutnya naik 75 persen, dua minggu berikutnya kalau evaluasinya aman, tidak ada klaster, warga sekolah taat dengan prokes, baru bisa 100 persen," terangnya.
 
 
Menurutnya, PTM 100 persen ini terlalu terburu-buru. Ketiga, mendesak pemerintah meningkatkan vaksinasi anak 6-11 tahun termasuk melakukan vaksinasi booster untuk guru. 
 
P2G meminta vaksinasi guru dan peserta didik menjadi acuan, khususnya untuk siswa sekolah dasar (SD). Sebagai informasi, target sasaran vaksinasi 6-11 tahun adalah 26,5 juta anak. Namun capaiannya masih di bawah vaksinasi anak 12-17 tahun yang capaiannya sudah di atas 80 persen.
 
"Guru sebagaimana tenaga kesehatan (nakes) berada di garda depan menghadapi risiko terpapar covid-19, karena berinteraksi dengan banyak anak setiap hari. Jadi sudah selayaknya guru mendapatkan booster vaksinasi untuk melindungi diri, keluarga, dan peserta didik," tukasnya.***
 
 
 

Editor: Arif Muhammad Iqbal

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Inilah Tiga Evaluasi P2G Seminggu PTM 100 Persen

Kamis, 13 Januari 2022 | 21:38 WIB

Inilah Para Jawara Kompetisi Robotik Madrasah 2021

Senin, 18 Oktober 2021 | 04:37 WIB
X