Pesantren Zero Kekerasan, Keniscayaan atau Utopis Belaka

- Sabtu, 5 November 2022 | 13:09 WIB

JAKARTA,suaramerdeka-Jakarta.com-Pesantren zero/nol kekerasan, sebuah keniscayaan atau utopis belaka? Agak sulit menjawab dengan an sich. Apalagi dengan adanya pelbagai kasus - baik itu perundungan, pelecehan dan penyimpangan yang kerap terjadi, bisa jadi harapan itu bagai mimpi di siang bolong.

Sejatinya pendidikan pesantren adalah pendidikan yang diselenggarakan oleh Pondok Pesantren dan berada di lingkungan pesantren dengan mengembangkan kurikulum sesuai kekhasannya dengan berbasis kitab kuning atau dirasah islamiah dengan pola pendidikan muallimin. Pendidikan Pesantren diatur dengan Permenag 31 tahun 2020 tentang Pendirian dan Penyelenggaraan Pesantren.

Saat ini stakeholder pondok pesantren terus berupaya meminimalisasi potensi terjadinya kekerasan di lingkungan pesantren. Regulasi atau aturan terkait pencegahan tindak kekerasan pada pendidikan agama dan keagamaan, termasuk pesantren segera disahkan, sebagaimana dikatakan Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren (PD Pontren) Kemenag, Waryono Abdul Ghofur beberapa waktu lalu.

Baca Juga: Bali Bebas Sampah Jelang KTT G20

Dan beberapa waktu lalu juga, bertempat di Masjid Sunan Kalijogo, Jombang, Jawa Timur berlangsung dialogis oleh para peserta yang merupakan jejaring yang peduli pada pendidikan yang ramah anak, yakni menuju Pesantren ramah anak dan anti bullying dengam pembicara utama Dra.Hj.Umdatul Qoirot (Bu Nyai), pendiri dan pengasuh Pondok Pesantren As Saidiyyah 2, Bahrul Ulum, Tambak Beras, Jombang Jawa Timur serta Mohamad Aan Anshori (Gus Aan) yang dikenal sebagai aktivis dan pemerhati pendidikan

Nyai Umda berkisah, dulu bersama Sang Suami, KH.Ach.Hasan.Mpdi (Abah Kiai) mendirikan dan membangun pondok Pesantren As Sa'idiyyah 2 pada 2004, di bawah Yayasan Pondok Pesantren Bahrul Ulum. Komitmennya, secara langsung mendidik, melayani dan mengayomi para santri mulai dari bangun tidur, sekolah, belajar, ibadah dan lain-lain kepada para santri yang diamanatkan.

"Kami ingin memberikan perhatian yang semestinya. Membagikan kasih sayang kepada setiap anak santri sebagai calon ulama. Ini adalah sebuah kenikmatan yang luar biasa, meski berat menjalankannya," jelas Bu Nyai Umda.

Baca Juga: Menutup “Beating Plastic Pollution from Source to Sea, Menko Luhut: Komitmen Kuat Tangani Sampah Plastik

Halaman:

Editor: Budi Nugraha

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Paramita Rusadi Meriahkah HUT Himpaudi

Selasa, 13 September 2022 | 05:53 WIB

Solidaritas Mahasiswa Teknik Mesin Tinggi

Rabu, 3 Agustus 2022 | 15:39 WIB

Poltekpel Banten Dirikan SDGs Centre

Selasa, 26 Juli 2022 | 21:37 WIB
X