Konsolidasi Operator Dan Moncernya Bisnis Internet of Thinks

- Kamis, 4 November 2021 | 13:23 WIB

  

JAKARTA,auaramerdeka-jakarta.com—Disadari atau tidak kehidupan harian manusia saat ini sangat terbantu oleh kehadiran IoT (Internet of Things), mulai dari hal sederhana seperti smart watch, toko online, smart home hingga hal yang lebih komplek seperti sistem perbankan atau industri manufaktur yang menggunakan robot. Tapi apa sebenarnya IoT itu?

Bila mengacu pada International Telecomunication Union (ITU-TY.2060), pengertian IoT adalah sebuah infrastruktur global bagi masyarakat yang memungkinkan layanan canggih dapat terhubung secara fisik dan virtual menggunakan teknologi informasi dan komunikasi. Ini dapat diibaratkan sebuah jaringan raksasa yang menghubungkan berbagai macam hal. Jadi, IoT dapat menghubungkan berbagai perangkat dan sistem melalui jaringan internet. 

Dalam hal ini jaringan internet adalah salah satu faktor kunci. Sebenarnya terdapat 4 layer yang mendasari IoT, yakni perangkat sensor, jaringan dan gateway, platform (perangkat manajemen, keamanan, analitik, dll), serta aplikasi dan solusi. Meski hanya memiliki porsi 9% dari keseluruhan hal yang mendasari IoT, namun tanpa jaringan internet sebuah perangkat canggih tidak akan berfungsi istimewa lagi. 

 

Baca Juga: Pemerintah Tidak Ingin Garuda Indonesia Bangkrut

Menyoal ketersediaan jaringan internet sangat erat kaitannya dengan operator seluler. Saat ini operator berlomba untuk memberikan layanan data tercepat dengan tarif yang terjangkau pada masyarakat.  Meski secara bisnis sudah berdarah-darah, sebab tarif internet di Indonesia adalah yang termurah kedua di dunia setelah India dan kebutuhan investasi yang tidak pernah turun nominalnya, akhirnya operator dipaksa untuk berpikir cerdas mencari solusi bisnis yang mendatangkan keuntungan.

Konsolidasi bisnis atau merger merupakan salah satu solusinya. Seperti yang dilakukan oleh dua operator: Indosat Ooredoo dan Hutchison Tri Indonesia belum lama ini. Kolaborasi keduanya tidak hanya menggabungkan jumlah pelanggan menjadi 104 juta tapi juga mengoptimalkan pemanfaatan frekuensi, kualitas layanan, dan infrastruktur lain yang dimiliki. 

Beberapa ahli berpendapat bahwa merger saja belum bisa mendatangkan keuntungan yang cukup bagi pihak operator, salah satunya Teguh Prasetya, Founder Asosiasi IoT Indonesia (ASIOTI) pada Diskusi Masa Depan Industri Telekomunikasi Indonesia yang digelar oleh Indonesia Technology Forum (ITF) pada Rabu, 3 Novermber 2021. Menurutnya, operator dapat lebih banyak masuk ke industri IoT dan bertransformasi menjadi digital solution company untuk mendatangkan pendapatan yang cukup tinggi.

Halaman:

Editor: Budi Nugraha

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Migrasi ke Era Digital dengan STB

Kamis, 26 Januari 2023 | 21:03 WIB

Aset Kripto Milik LINE, LINK, Bergabung dengan Huobi

Sabtu, 29 Oktober 2022 | 10:56 WIB

#IniWaktunyaKita, Semangat Tri untuk Generasi Z

Sabtu, 3 September 2022 | 18:51 WIB

Waspadai Perang Tarif di Telko

Rabu, 23 Februari 2022 | 15:25 WIB
X