Hak Labuh Satelit hanya Berlaku untuk Layanan Backhaul

- Senin, 13 Juni 2022 | 16:44 WIB
Juru Bicara Kementerian Kominfo Dedy Permadi.
Juru Bicara Kementerian Kominfo Dedy Permadi.

JAKARTA, suaramerdeka-jakarta.com - Kementerian Komunikasi dan Informatika telah memberikan Hak Labuh Satelit Khusus Non Geostationer (NGSO) Starlink kepada PT Telkom Satelit Indonesia (Telkomsat). Hak Labuh Satelit tersebut hanya berlaku untuk layanan backhaul dalam penyelenggaraan jaringan tetap tertutup Telkomsat.

“Dan bukan untuk layanan retail pelanggan akses internet secara langsung oleh Space Exploraration Technologies Corp (STARLINK),” kata Juru Bicara Kementerian Komunikasi dan Informatika Dedy Permadi dalam keterangan tertulis, Senin (13/6).

Menurutnya, backhaul adalah teknologi yang memfasilitasi perpindahan data dari satu infrastruktur telekomunikasi ke telekomunikasi lainnya. Teknologi ini dapat digunakan untuk mendukung penyediaan layanan broadband internet selular 4G.

“Terutama di daerah rural yang belum tersambung secara langsung dengan kabel serat optik. Layanan satelit Starlink hanya dapat beroperasi jika pembangunan Gateway Station - Teresterial Component untuk menerima layanan kapasitas Satelit Starlink serta pengurusan Izin Stasiun Radio (ISR) Satelit Starlink telah dirampungkan oleh Telkomsat,” ujarnya.

Sebagai pemegang eksklusif atas Hak Labuh Satelit Starlink, lanjutnya, maka Telkomsat berhak mendapatkan layanan backhaul satelit. Operasional pemanfaatan layanan Starlink oleh Telkomsat wajib tunduk pada regulasi yang berlaku.

“Termasuk pemenuhan kewajiban hak labuh. Izin hak labuh akan dievaluasi setiap tahun dan dapat diperpanjang berdasarkan hasil evaluasi dan sesuai dengan ketentuan perundangan-undangan yang berlaku,” ujarnya.

Dikatakan, hubungan perdagangan bilateral di sektor telekomunikasi dan digital antara Indonesia dan Amerika Serikat berkembang pesat. Kerjasama kedua negara tersebut juga mencakup rencana Indonesia untuk memiliki 3 satelit generasi terbaru.

“Yakni 150 Gb Very High Throughput Satellite (VHTS) diberi nama SATRIA (Ka- Band); 80 Gb Very High Throuhput Satellite (VHTS) sebagai Hot Backup Satellite (Ka-band) dan 32 Gb High Throughput Satellite (HTS) yang di miliki Telkomsat (C & Ku- band),” paparnya.

Menurutnya, ketiga satelit ini di rencanakan akan menggunakan roket peluncur SpaceX - Falcon 9 dan merupakan jenis satelit yg mengorbit di Geo stationer Orbit.

Halaman:

Editor: Arif Muhammad Iqbal

Tags

Terkini

Aset Kripto Milik LINE, LINK, Bergabung dengan Huobi

Sabtu, 29 Oktober 2022 | 10:56 WIB

#IniWaktunyaKita, Semangat Tri untuk Generasi Z

Sabtu, 3 September 2022 | 18:51 WIB

Waspadai Perang Tarif di Telko

Rabu, 23 Februari 2022 | 15:25 WIB

Video Mudahkan Pegiat Literasi Sampaikan Pesan

Selasa, 21 September 2021 | 13:07 WIB
X